Magnetic Resonance Imaging
Magnetic Resonance Imaging atau MRI
Apakah itu MRI ?
Apakah itu MRI ?
MRI merupakan pemeriksaan diagnostik modalitas imaging dengan menggunakan medan magnet dan radiofrekuensi (RF)/yang ditranmisikan dan sebagai sumber sinyal gambarnya adalah atom (inti hidrogen) di dalam tubuh yang ditangkap oleh receiver dan ditransformasikan dalam bentuk data dan menjadi sebuah image atau gambar.
Tehnik penggambaran MRI relatif komplek karena gambaran yang dihasilkan tergantung pada banyak parameter. Alat tersebut memiliki kemampuan membuat gambaran potongan coronal, sagital, aksial dan oblik tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien Bila pemilihan parameternya tepat, kualitas gambaran detil tubuh manusia akan tampak jelas, sehingga anatomi dan patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti.
Bagaimana proses penggambaran MRI itu sendiri, sebelum kita lihat proses penggambaran MRI mari kita lihat sejarah atau lahirnya modalitas imaging ini.
Sejarah MRI
Sebenarnya awal mula ditemukan MRI tidak dapat dilepaskan dari sejarah ditemukanya magnet, awal mula magnet ditemukan oleh ilmuwan china yang menemukan kompas, dst.
Tetapi yang dibahas dalam sejarah mri adalah bagaimana MRI ini ditemukan, berbeda dengan radiologi konvensional atau pesawat X-ray, merupakan penemuan coba-coba dan kebetulan menghasilkan tabung sinar X.
Awal Mula MRI berasal dari NMR atau Nuclei Magnetic Resnance
Diawali oleh Fisikawan dari United states yaitu Edward M. Purcell and Felix Bloch atau dikenal Purcell dan Bloch, yang secara mandiri melakukan penelitian, maksudnya mandiri adalah penelitian ini atas inisiasi sendiri tanpa mendapat pembiayaan atau instruksi dari pemerintah atau universitas, yaitu di tahun 1946.
Ini Fotonya
Sejarah MRI
Sebenarnya awal mula ditemukan MRI tidak dapat dilepaskan dari sejarah ditemukanya magnet, awal mula magnet ditemukan oleh ilmuwan china yang menemukan kompas, dst.
Tetapi yang dibahas dalam sejarah mri adalah bagaimana MRI ini ditemukan, berbeda dengan radiologi konvensional atau pesawat X-ray, merupakan penemuan coba-coba dan kebetulan menghasilkan tabung sinar X.
Awal Mula MRI berasal dari NMR atau Nuclei Magnetic Resnance
Diawali oleh Fisikawan dari United states yaitu Edward M. Purcell and Felix Bloch atau dikenal Purcell dan Bloch, yang secara mandiri melakukan penelitian, maksudnya mandiri adalah penelitian ini atas inisiasi sendiri tanpa mendapat pembiayaan atau instruksi dari pemerintah atau universitas, yaitu di tahun 1946.
Ini Fotonya
Purcel lahir Illinois di United States America and Belajar di Universitas Purdue, Indiana. Menjadi peneliti di Universitas Teknik Karlsruhe Technical Jerman, Bekerja di Massachusetts Institute of Technology.
Edward M. Purcell (1912-1997).
Bloch Lahir di Zurich dan mengajar di Leipzig hingga 1933; kemudian bermigrasi ke United States Naturalisasi kewarganegaraan. Dia bergabung dengan universitas Stanford di Palo Alto di 1934 and menjadi direktur pertama kali di CERN in Geneva tahun 1962. tahun 1983 meninggal di Zurich.
Purcell dan Bloch mengamati Fenomena magnet properties_nya terhadap beberapa inti atom salah satunya hidrogen ini. yang dikenal Nuclear magnetic Resonance Phenomenon dan mendapatkan nobel ditahun 1952.
Kemudian Pada tahun 1924, Wolfgang Pauli (1900-1958) mengemukakan kemungkinan adanya putaran nuklir intrinsik. Setahun kemudian, George Eugene Uhlenbeck (1900-1988) dan Samuel A. Goudsmit (1902-1978) memperkenalkan konsep elektron. Dua tahun kemudian Pauli dan Charles Galton Darwin (1887-1962) mengembangkan kerangka teoretis konsep spin elektron ke dalam mekanika kuantum baru yang dikembangkan tahun sebelumnya oleh Erwin Schrödinger (1887-1961) dan Werner Heisenberg (1901-1976).
Otto Stern Setelah melakukan pekerjaan pembuatan alat pacu jantung awal, pada tahun 1933, Otto Stern- bersama Walther Gerlach (1889-1979) - mampu mengukur dampak putaran nuklir dengan defleksi seberkas molekul hidrogen (yang disebut Efek Stern-Gerlach). Stern dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisika untuk tahun 1943 "atas kontribusinya terhadap pengembangan metode sinar molekuler dan penemuan momen magnetik protonnya.
Selama awal 1930an, laboratorium Isidor Isaac Rabi di Columbia University di New York menjadi pusat penelitian yang utama.
Penelitian Rabi berhasil dilakukan, namun hanya dengan kunjungan Cornelis Jacobus Gorter dari Belanda pada bulan September 1937 mereka akhirnya dapat mengukur momen magnetik nuklir. Gorter sempat mencoba percobaan serupa tadi dan gagal
Beberapa tahun kemudian, Gorter adalah orang pertama yang menggunakan istilah resonansi magnetik nuklir dalam publikasi tentang eksperimennya yang gagal yang muncul di Belanda yang dilanda perang pada tahun 1942, karena menghubungkan istilah tersebut dengan Rabi [⇒ Gorter]
Setelah kunjungan Gorter, Rabi mengemukakan sarannya mengenai eksperimen tersebut, mengubahnya, dan dapat mengamati resonansi secara eksperimental. Hal ini menyebabkan terbitnya "Metode Baru untuk Mengukur Moment Magnetik Nuklir" pada tahun 1938 [⇒ Rabi].
Perang Dunia Kedua memiliki pengaruh besar pada penelitian - dan interupsinya. Jerman, misalnya, negara terkemuka sains dan kedokteran saat itu, berhenti berparade di tahun 1930an. Terobosan terakhir datang dengan Bloch dan Purcell pada tahun 1946 dan selama beberapa dekade berikutnya NMR dikembangkan dalam berbagai aplikasi. Tapi ada negara lain di mana kontribusi besar terhadap resonansi magnetik nuklir dibuat. Mereka berasal dari Kazan di Tatarstan, yang merupakan bagian dari Uni Soviet saat itu dan sekarang menjadi sebuah republik independen di Rusia.
Otto Stern Setelah melakukan pekerjaan pembuatan alat pacu jantung awal, pada tahun 1933, Otto Stern- bersama Walther Gerlach (1889-1979) - mampu mengukur dampak putaran nuklir dengan defleksi seberkas molekul hidrogen (yang disebut Efek Stern-Gerlach). Stern dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisika untuk tahun 1943 "atas kontribusinya terhadap pengembangan metode sinar molekuler dan penemuan momen magnetik protonnya.
Selama awal 1930an, laboratorium Isidor Isaac Rabi di Columbia University di New York menjadi pusat penelitian yang utama.
Penelitian Rabi berhasil dilakukan, namun hanya dengan kunjungan Cornelis Jacobus Gorter dari Belanda pada bulan September 1937 mereka akhirnya dapat mengukur momen magnetik nuklir. Gorter sempat mencoba percobaan serupa tadi dan gagal
Beberapa tahun kemudian, Gorter adalah orang pertama yang menggunakan istilah resonansi magnetik nuklir dalam publikasi tentang eksperimennya yang gagal yang muncul di Belanda yang dilanda perang pada tahun 1942, karena menghubungkan istilah tersebut dengan Rabi [⇒ Gorter]
Setelah kunjungan Gorter, Rabi mengemukakan sarannya mengenai eksperimen tersebut, mengubahnya, dan dapat mengamati resonansi secara eksperimental. Hal ini menyebabkan terbitnya "Metode Baru untuk Mengukur Moment Magnetik Nuklir" pada tahun 1938 [⇒ Rabi].
Perang Dunia Kedua memiliki pengaruh besar pada penelitian - dan interupsinya. Jerman, misalnya, negara terkemuka sains dan kedokteran saat itu, berhenti berparade di tahun 1930an. Terobosan terakhir datang dengan Bloch dan Purcell pada tahun 1946 dan selama beberapa dekade berikutnya NMR dikembangkan dalam berbagai aplikasi. Tapi ada negara lain di mana kontribusi besar terhadap resonansi magnetik nuklir dibuat. Mereka berasal dari Kazan di Tatarstan, yang merupakan bagian dari Uni Soviet saat itu dan sekarang menjadi sebuah republik independen di Rusia.
Elektron spin resonansi ditemukan di Universitas Kazan oleh Yevgeni K. Zavoisky menjelang akhir perang [⇒ Zavoisky]. Zavoisky pertama kali mencoba mendeteksi NMR pada tahun 1941, tapi seperti Gorter dia gagal.
Kemudian, pada bulan Januari 1944, dia mendaftarkan sinyal ESR (electron spin resonance). Mereka dicatat pada film seluloid dan juga disalin dengan tangan ke dalam buku catatan laboratorium

Komentar
Posting Komentar